Mahasiswa Teknik Industri seringkali identik dengan tugas akhir yang membahas optimasi pabrik, rantai pasok, atau perhitungan angka yang rumit. Namun, stigma tersebut berhasil dipatahkan oleh Yahya, mahasiswa Teknik Industri Universitas Surabaya (UBAYA), yang memilih “jalan ninja”-nya sendiri untuk tugas akhirnya dengan cara yang berbeda. Nyatanya, di Teknik Industri juga belajar terkait Perancangan Desain Produk loh! Yahya sukses lulus sidang Tugas Akhir dengan nilai A melalui karyanya yang unik: sebuah Pop-Up Book “Belajar Mandiri” yang dirancang khusus untuk siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), khususnya penyandang tunagrahita ringan (IQ di bawah rata-rata).
Inovasi ini tidak lahir begitu saja. Ide pembuatan pop-up book ini bermula dari kepedulian Yahya saat melakukan observasi di SLB Bakti Asih. Di sana, ia melihat tantangan nyata yang dihadapi oleh para guru dan siswa. Alat peraga pembelajaran yang tersedia dinilai terlalu rumit dan memakan waktu lama untuk dipahami oleh siswa berkebutuhan khusus. Melihat celah masalah tersebut, Yahya memutuskan untuk menggabungkan passion-nya di bidang Desain Produk dan crafting (kerajinan tangan) dengan keilmuan Teknik Industri yang dipelajarinya selama duduk di bangku kuliah.
Meskipun terlihat seperti produk kerajinan yang lucu dan penuh warna, pop-up book karya Yahya dibuat berdasarkan penerapan disiplin ilmu Teknik Industri, khususnya Ergonomi Kognitif. Yahya tidak mendesain secara sembarangan; setiap elemen visual diperhitungkan untuk menyesuaikan kemampuan kognitif siswa tunagrahita ringan.
Terdapat tiga prinsip utama yang diterapkan Yahya dalam bukunya:
- Pemilihan warna: Yahya menggunakan dominasi cool colors untuk memberikan efek menenangkan pada mata siswa. Sebaliknya, warna merah yang mencolok hanya digunakan pada poin-poin penting untuk membantu siswa memfokuskan perhatian.
- Tipografi yang tepat: Jenis huruf (font) dipilih secara khusus agar mudah dibaca (readable) dan tidak membingungkan bagi anak tunagrahita.
- Simpel dan repetitif: Mengingat karakteristik siswa yang cenderung mudah lupa, instruksi dalam buku dibuat sederhana dan berulang (repetitif) untuk memperkuat ingatan.
Yahya mengatakan bahwa tujuan utama dari buku “Belajar Mandiri” ini bukan sekadar melatih kemampuan membaca, melainkan melatih kemandirian hidup. Materi yang disajikan, seperti cara membuat teh, diharapkan mampu membekali siswa agar kelak bisa bekerja dan membantu ekonomi keluarga. Saat diujicobakan, hasilnya sangat positif. Anak-anak SLB yang biasanya sulit fokus menjadi lebih antusias dan bahagia saat belajar menggunakan media ini. Para guru di SLB Bakti Asih pun sepakat bahwa metode interaktif ini efektif membantu meningkatkan memori para siswa.
Karya Yahya membuktikan bahwa skripsi mahasiswa Teknik Industri tidak harus selalu tentang teknologi canggih atau mesin besar. Inovasi sejati adalah tentang menciptakan solusi yang tepat guna dan berdampak bagi masyarakat. Inovasi itu soal empati. Pop-up book inovatif karya Yahya membuktikan kalau tugas akhir tidak harus selalu tentang teknologi canggih, tapi tentang solusi yang tepat guna dan berdampak.
Selamat kepada Yahya atas pencapaian luar biasa ini! Semoga karya ini dapat menginspirasi mahasiswa Teknik Industri UBAYA untuk terus berinovasi dan peka terhadap permasalahan sosial di sekitar. (khes, edited by ed)

#FunLearningBrightCareer