Tahun Ketiga Pengabdian, UBAYA dan UM Surabaya Kembangkan Produk Pangan Lokal di Desa Selotapak ti September 2, 2026

Tahun Ketiga Pengabdian, UBAYA dan UM Surabaya Kembangkan Produk Pangan Lokal di Desa Selotapak

Universitas Surabaya (UBAYA) bersama Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) berkolaborasi dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD) 2026 yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Memasuki tahun ketiga, program yang dilaksanakan di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, Mojokerto, ini difokuskan pada diversifikasi produk, penguatan pemasaran, dan optimalisasi teknologi tepat guna bagi pelaku usaha lokal.

Program ini merupakan kolaborasi lintas fakultas dan lintas universitas yang melibatkan Fakultas Teknik UBAYA, khususnya Teknik Industri, Fakultas Teknobiologi (FTB) UBAYA, serta UM Surabaya. Dari Teknik Industri UBAYA, Gunawan, Ph.D., dan Ir. Argo Hadi Kusumo, M.B.A. terlibat dalam tim pelaksana. Kolaborasi tersebut memadukan keahlian dari berbagai bidang untuk mendukung pengembangan usaha berbasis potensi bahan pangan lokal.

Kegiatan melibatkan dua mitra usaha, yaitu UD Aneka Camilan “Ria” dan UD Aneka Camilan “Hari Jaya”, serta kelompok IKM produk makanan Desa Selotapak. Pada tahun ketiga, tim tidak hanya melanjutkan pemanfaatan teknologi yang telah diberikan pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi juga mendorong munculnya produk dan varian baru.

Salah satu fokus pengembangan adalah pemanfaatan singkong sebagai bahan baku tepung cassava dan tepung mocaf (modified cassava flour). Pendampingan dilakukan mulai dari proses pengolahan singkong hingga menjadi tepung. Tepung cassava diproduksi tanpa fermentasi sehingga karakteristik khas singkong tetap dipertahankan, sedangkan tepung mocaf melalui proses fermentasi untuk menghasilkan tepung dengan aroma dan rasa yang lebih netral.

Pengembangan tepung tersebut kemudian diarahkan pada pembuatan produk turunan. Salah satunya adalah semprong atau egg roll berbahan tepung cassava. Produk ini dikembangkan dengan mempertahankan cita rasa khas singkong sehingga memiliki karakter yang berbeda dari egg roll yang umumnya menggunakan tepung terigu. Gagasan produk tersebut merupakan hasil pembelajaran lapangan yang dilakukan pada tahun kedua.

Diversifikasi juga dilakukan oleh Mitra 1 melalui pengembangan sereal berbahan ubi ungu. Produk ini dikembangkan dalam bentuk sereal instan dengan memanfaatkan kandungan antosianin, serat, dan nutrisi alami dari ubi ungu. Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi produk dengan bentuk dan peluang pasar yang lebih beragam.

 

 

 

 

 

  

Sementara itu, Mitra 2 mengembangkan varian baru keripik mbote atau talas dengan memanfaatkan mesin perajang berbentuk gelombang dan stik yang diberikan pada tahun ketiga. Mitra telah menghasilkan keripik mbote berbentuk gelombang dan stik. Varian tersebut kemudian dikombinasikan dengan berbagai rasa, termasuk balado dan manis asin yang banyak diminati pelanggan.

Selain pengembangan produk, aspek pemasaran juga menjadi bagian dari program tahun ketiga. Tim memberikan pelatihan dan sharing mengenai strategi marketing produk UMKM yang diikuti sekitar 20 peserta, terdiri atas kedua mitra, kelompok IKM Desa Selotapak, dan Kepala Desa. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam memasarkan dan mengembangkan produk mereka.

Penguatan promosi juga dilakukan melalui pembuatan neon box sebagai media display bagi Mitra 2 untuk meningkatkan awareness wisatawan yang melewati lokasi usaha. Selain itu, tim mengembangkan desain kemasan box untuk produk keripik yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang membeli produk dalam jumlah banyak untuk berbagai acara.

Untuk mendukung proses produksi, sejumlah teknologi tepat guna diberikan dan diterapkan pada tahun ketiga. Di antaranya mesin sawut untuk merajang singkong dan ubi, alat pengukur kadar air tepung, rak stainless steel untuk mendukung proses pengeringan, mesin penepung, serta mesin perajang untuk menghasilkan bentuk keripik yang lebih beragam. Teknologi tersebut melengkapi peralatan yang telah diberikan pada tahun pertama dan kedua.

Pendampingan juga dilakukan dalam penggunaan teknologi tersebut. Ketika mitra mengalami kendala dalam pengoperasian mesin, tim turut membantu mencari penyebab dan solusi. Salah satu contohnya terjadi pada mesin perajang umbi berbentuk stik yang tidak dapat memotong secara optimal. Setelah dilakukan pendampingan, ditemukan bahwa pisau potong perlu dibersihkan secara rutin agar mesin dapat bekerja dengan baik.

Memasuki tahun ketiga, program pengabdian ini diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pada pengembangan produk bernilai tambah berbasis potensi pangan lokal. Melalui kolaborasi lintas bidang antara UBAYA dan UM Surabaya, potensi singkong, ubi ungu, dan bahan pangan lokal lainnya di Desa Selotapak terus dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam sekaligus didukung oleh teknologi dan strategi pemasaran yang lebih baik. (ahk)

#FunLearningBrightCareer

Baca juga artikel terkait:

https://www.ubaya.ac.id/2026/08/21/bikin-inovasi-olahan-ubi-ungu-ikm-mojokerto-didorong-tingkatkan-daya-saing/

https://mojokerto.disway.id/pendidikan/read/9724/dari-ubi-ungu-jadi-sereal-ikm-mojokerto-naik-kelas-berkat-sentuhan-teknologi